Baca Juga
Cerita siswa SD menggantung di jembatan tali sling saat menyeberangi sungai di Desa Maroko, Kecamatan Rante Angin, Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara, menjadi buah bibir masyarakat.
Para murid SD berani menantang maut dengan menggelantung di jembatan tali lantaran tidak ada jembatan. Padahal, sungai mereka seberangi cukup dalam.
Kondisi itu dialami Muliana setiap hari. Murid SD asal Dusun IV Desa Maroko, Rante Angin, Kolaka Utara itu tidak hanya menggelantung melewati sungai. Ia juga harus berjalan kaki sejauh empat kilometer untuk sampai di sekolah.
Muliana tidak sendirian. Setiap hari ia berangkat bersama dua rekannya, Erni dan Ita. Ketiga bocah ini gesit menelusuri jalan setapak, mengitari kawah perbukitan dan menembus kabut dingin yang belum dijemput sinar mentari.
Rumah mereka berjauhan di bukit. Untuk sampai ke sekolah di SD 2 Tinukari, butuh setidaknya 60 menit, bahkan bisa lebih tergantung cuaca saat pagi.
“Kalau hujan bisa pakai payung daun pisang. Tapi biasa tidak pergi sekolah karena air sungai naik. Biasa jalan sama kakak yang sekolah di SMK, Randi namanya,” ujar Ana, panggilan Muliana.
Sungai yang ia maksud yakni rute yang akan diseberangi menuju Desa Tinukari Kecamatan Wawo, seluas kurang lebih 50 meter. Kalau cuaca bersahabat, kedalamannya hanya dua meter saja. Namun saat daerah itu diguyur hujan bisa mencapai enam sampai tujuh meter.
“Biasanya, kami tidak lanjut ke sekolah karena takut menyeberang,” tutur gadis cilik kelahiran 6 Februari 2003 itu.
Selain jalan kaki berkilometer jauhnya, tantangan yang ia hindari adalah air sungai meninggi ketika pulang sekolah. Ia berharap pemerintah bisa membuatkan jembatan agar tidak selalu absen ke sekolah.
Perjalanan yang jauh dan harus menyeberangi sungai itulah hingga sebagian dari orang tua siswa yang punya keluarga di desa, menitip putra-putri mereka menetap sementara dan kembali saat di penghujung pekan.
Tidak ada fasilitas pemerintah di dusun IV) terkecuali masjid. Saat ada warga yang sakit sudah dalam kondisi memprihatinkan baru digotong turun gunung agar sampai ke Puskesmas maupun rumah sakit.
Begitu juga dengan bidan desa juga tidak ada, kecuali dukun beranak apabila ada warga yang hendak bersalin. Mereka terisolasi karena sulitnya akses dan jauh dari keramaian.
Menuju Dusun IV Maroko jalannya sebagian hanya disemen selebar 20 cm dengan kemiringan bervariasi mulai 20-70 derajat. Warga swadaya mencetak pijakan jalan setiap akhir pekan agar mudah dilintasi kendaraan roda dua.
Menyeberangi sungai yang membelah Desa Maroko dan Wawo itu sebenarnya bisa memudahkan karena jaraknya terpangkas. Sayang tak ada jembatan. Warga pun berinisiatif membuat konsep menyeberang yang ekstrim, menggelantung pada seutas tali baja alias sling.
Bukan hanya manusia, barang bawaan, ternak hingga kendaraan bisa diseberangkan. Tentu saja ini berisiko. Ada papan sepanjang kurang lebih satu meter dan setebal 3 cm yang diapit tali nilon dibungkus dua potongan bambu sebagai pegangan untuk menggelantung pada seutas tali sling.
Agar mudah bergeser, katrol dipakai meluncur dan bergeser yang diikuti gerakan menarik sebuah tali jenis nilon yang sedikit lebih kendor terpampang.
Wardi, warga Kecamatan Rante Angin yang baru saja menyeberangkan dua karung cengkihnya dari Desa Maroko mengutarakan hal ini belum seberapa. Jika arus deras usai hujan ketinggian sungai capai 6-7 meter. Bagi seorang pria seperti dia hal itu tidaklah sesulit, tapi para ibu dan anak itu sangat rawan.
Ada 40 KK bermukim di wilayah tersebut yang beberapa diantaranya para pelajar yang turun gunung bersekolah melalui penyeberangan darurat itu setiap hari sekolah. Salah satunya Muliana. Jika arus deras, sudah dipastikan mereka akan absen karena dilarang orang tuanya menyeberang sungai.
“Kalau kencang arus apalagi habis hujan deras mereka (pelajar) tidak masuk sekolah,” ujar pria berambut ikal itu.
Hal serupa diceritakan Ansar warga Tinukari, baru-baru ini ada motor warga yang diseberangkan jatuh ke sungai karena tali pengikat putus. Itu bukan kejadian pertama kali. Banyak warga yang bermukim di puncak Maroko itu menyeberangkan roda
Ada 40 KK bermukim di wilayah tersebut yang beberapa diantaranya para pelajar yang turun gunung bersekolah melalui penyeberangan darurat itu setiap hari sekolah. Salah satunya Muliana. Jika arus deras, sudah dipastikan mereka akan absen karena dilarang orang tuanya menyeberang sungai.
“Kalau kencang arus apalagi habis hujan deras mereka (pelajar) tidak masuk sekolah,” ujar pria berambut ikal itu.
Hal serupa diceritakan Ansar warga Tinukari, baru-baru ini ada motor warga yang diseberangkan jatuh ke sungai karena tali pengikat putus. Itu bukan kejadian pertama kali. Banyak warga yang bermukim di puncak Maroko itu menyeberangkan roda duanya
“Kalau orang sakit sudah sering ada yang diseberangkan. Bisa menggantung 2-3 orang sekali menyeberang. Yang susah itu kalau kita sendirian tidak ada yang tarikkan,” keluhnya.
Kades Tinukari, Abdul Rahman mengutarakan, sebenarnya warga bisa saja melintasi jalan lain tanpa harus menyeberang namun lebih jauh lagi dan harus mengitari bukit.
Penyeberangan itu sendiri telah digunakan tiga tahun belakangan yang terwujud secara swadaya warga mengumpulkan uang sesuai kemampuan. Kaur Pembangunan Desa Tinukari, Amir K yang sempat ditemui mengemukakan belum pernah Kepala Desa melaporkan keberadaan penyeberangan darurat penghubung dua desa itu.
“Kalau kades Maroko baru orangnya (dilantik). Memang tidak pernah dilaporkan,” katanya.
Derita warga Maroko lestari karena kabar soal ini tak sampai ke Lasusua, ibukota Kolaka Utara. Aparat desa setempat tak pernah mengadukan ini.
Harapan kini akhirnya muncul. Derita orang-orang Maroko sudah terdengar jauh ke gedung DPR RI di Senayan, Jakarta. Umar Arsal, anggota DPR dar Dapil Sultra sudah tahu soal ini dan ia langsung menginstruksikan kolega separtainya di Demokrat, untuk menyusun proposal anggaran agar bisa diajukan ke APBN 2018.
“Tolong diajukan proposal untuk pembuatan jembatan gantung Desa Maroko segera kita bantu untuk anggaran 2018. Cek berapa meter bentangannya dan koordinasikan ke Wakil Ketua DPR Sultra, H. Jumardin dan langsungkan proposal itu ke saya,” kata Umar Arsal lewat pesan diaplikasi Whatsapp, yang ia tujukan kepada Buhari, anggota DPRD Kolaka Utara dari Partai Demokrat.
Secara pribadi, Buhari sendiri menanggapi apa yang menjadi keluhan warga setempat bahwa sudah seharusnya dari dulu anggaran APBD digelontorkan. Dirinya sendiri dengan jujur belum pernah melihat penyeberangan tersebut dan bersiap-siap akan ke lapangan.
“Saya pribadi baru tahu. Jadi setelah kami tinjau baru kita susun RAB-nya dan kita segerakan susun proposalnya.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kolaka Utara (Kolut), Mukramin kaget begitu tahu ada kondisi di daerahnya yang seperti itu.
Ia pun seketika menghubungi bawahannya agar segera ke terjun meninjau lokasi jembatan tali. Mukramin mengaku tidak tahu soal itu apalagi dalam setiap pertemuan-pertemuan juga tidak pernah diungkapkan jembatan demikian yang sudah menjadi akses vital warga di sana.
(rus/kendaripos/pojoksatu)
VIRAL !! Siswa SD ke Sekolah Menggantung di Tali Seberangi Sungai
4/
5
Oleh
Unknown
